Tampilkan postingan dengan label cuap-cuap. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cuap-cuap. Tampilkan semua postingan

Minggu, 23 Juni 2013

Terikat Kebebasan



Kubiarkan waktu menggenggam segalanya, termasuk dirimu yang absurd namanya. Kakiku telah kebas karena tenggelam bertahun-tahun, jadi biarlah kini kukeringkan semua yang basah, biar hujan yang nanti kan mewarnainya lagi, menegaskan yang pernah ada, entah akan terulang atau akan datang sebuah utusan baru dari Tuhan.
Takkan ada lagi terjun kedalamanmu,ucapkan selamat tinggal pada yang dulu ada. Jejak-jejak kecil maupun besar tak akan kuhapus, biar saja menjadi sebuah cerita yang kanku tulis dan tinggalkan dalam lembar perkamen hitam-merah milikku. Yah, seandainya mantra-mantra yang diajarkan di sekolah Hogward dalam novel cerita Harry Potter benar adanya, mungkin akan kulakukan mantra modifikasi pikiran pada diriku sendiri.
Syukurlah, Tuhan telah mengikatkanku pada kebebasan yang membuatku bernafas amat lega. Hingga gelembung udara dalam kantongku menguap, meluapkan embun-embun bersajak. Berpendar diantara langit berpoles aurora, yang kuharap menebarkan damai bagi yang menemukannya.  

Kamis, 30 Mei 2013

Tentang La Nina


La Nina. Adalah sebuah nama yang saya pilih untuk dijadikan nama pena. Sebelumnya ada beberapa pilihan, yaitu Ara Karenina(menjadi nama account google), Evodiiee (akhirnya menjadi nama account Twitter), Cemara Latuasan. Tapi pada akhirnya saya memilih La Nina. Kenapa? Banyak yang saya pertimbangkan dalam makna nama ini. La berasal dari nama akhir saya, Latuasan, nama yang berasal dari keluarga bapak. Nama ini saya pakai sekaligus untuk mengenang bapak.  Nina, merupakan bagian dari Karenina. Dulu, nama panggilan saya Nina, tapi karena ada seorang teman yang bernama sama, akhirnya berganti menjadi Ara/Cemara, nama yang dulu jarang ditemukan.  Selain itu La Nina dalam bahasa Latin memiliki arti gadis kecil. La Nina juga merupakan sebuah badai angin yang bertiup di sepanjang Samudra Pasifik. Badai La Nina umumnya terjadi pada musim dingin, nah, kalau Indonesia punya 4 musim, maka saya lahir pada musim dingin. Maka dari itu, saya ingin menjadi badai La Nina, badai yang datang membawa damai, bukan bencana J karena ibu adalah pencetus nama ini, maka dalam nama La Nina secara tak langsung saya menghadirkan sosok hebat kedua orang tua saya J
So, I’m La Nina..

Selasa, 19 Februari 2013

Catatan 13 Februari

Setiap manusia akan bertambah usia.
Selamat Ulang Tahun ya, seorang teman yang tak akan pernah dilupakan^^
Dimana pun kau kini merajut mimpi. Pasti semangat selalu menyala dalam tiap langkahmu.
Tuhan selalu memberkatimu.

Beranjak

Aku telah berdiri lama, tak terhitung waktu. Bertmpu pada sebuah pijakan yang sebenarnya aku tak yakin sepenuhnya dapat bertahan. Mencoba adalah kata yang tepat untukku.Namun mencoba itu membutuhkan pengorbanan jiwa dan raga, ternyata. Hingga tiba pada sebuah detik. Kakiku tak mampu lagi berdiri. Hati berbisik untuk pergi. Melangkah ke sebuah tujuan pasti. Tempat dimana aku benar-benar hidup dan bernyawa. Tak lagi hidup seperti patung. Sekarang, saatnya tuk beranjak.Move on to be my self!

Rabu, 06 Februari 2013

Angin


“ Teteh, bagaimana dengan angin?” tanyaku sambil meniup mainan kincir angin berwarna merah. Siang ini angin tak begitu kencang.
“ Angin? Gimana ya? Kamu itu fleksibel sih. Mau ikut angin, matahari, akar, apapun bisa kok.” Ujar teteh. Aku mengerucutkan bibir.
“ Kenapa angin? Bukannya kamu suka hujan?” sekarang teteh yang bertanya.
Jlep! Ada jarum menusuk-nusuk didada. Melunturkan segala kekuatan yang hampir kokoh. Memiaskan sebagian keyakinanku hari ini. Geming. Hanya terdengar suara ludah yang ditelan kembali.
“ hahaha” aku hanya tertawa. Tawa yang makin lemah dan hilang pada akhirnya.
“ gak usah ketawa kalo cuma pura-pura. Kamu masih tetep ya, menutupi perasaanmu yang sebenarnya.” Ocehmu. Kau ambil tanganku. Erat.
“ Kamu berhak untuk sendiri. Tapi ada kalanya, kita butuh berpegang pada yang lain.” Angkuhku rontok. Kabur bersama kehangatan yang kau tularkan. Hilang bersama tulus yang kau tancapkan di kalbu.
“ Aku merasa menjadi batu. Membebani setiap pijakan tempat dimana aku berdiri. Maka dari itu aku suka hujan. Dulu. Ketika aku menyerah dan percaya hujan mampu membunuhku secara perlahan.” Aku berhenti sejenak.
“ Tapi aku bertemu angin. Awalnya aku acuh padanya. Tuli pada teriakannya. Tapi angin tak menyerah mendorongku, menyemangatiku. Mengajakku bangkit. Hingga aku kembali tegak.” Kataku. Aku jadi teringat kembali pada satu mozaik hidupku. Aku hanya tersenyum.
“ So, berterima kasihlah pada angin.” Teteh mengambil kincir angin ditanganku.
“ Terima kasih angin. Tuhan memberkatimu.” Ada selaksa rindu yang menguap. Menyembul tak sabar.
Langit cerah. Angin semilir berbisik.

Selasa, 05 Februari 2013

Percakapan Hari Ini


Hujan turun. Rintik. Ada secangkir Cappuchino milikku dan segelas air putih punyamu.
“ Bolos kuliah lagi? Mau sampai kapan?” dengan santainya kau bertanya. Tak seperti orang-orang itu yang selalu bertanya dengan nada tak enak.
Aku diam. Hanya mendengarkan sambil memainkan gantungan kunci monyetku.
“ kalau melakukan sesuatu jangan setengah-setengah. Penyakit lama kok masih saja dipelihara.” Kau masih belum menatapku. Maka dari itu aku tak mau menjawab apapun pertanyaanmu.
Hening. Hujan semakin lebat. Dingin. Aku masih diam. Aku berharap dengan kebisuanku dia mau menatapku. Mencari jawaban lewat mataku. Seperti yang dia lakukan dulu.
“ Sekarang bilang apa maumu yang…” sebelum selesai berkata, kupotong bicaranya.
“ Mas ngomong sama aku? Kalo iya, lihat aku lah!” aku jadi geregetan dan tak sabar. Merajuk.
Kau tertawa. Lalu kau minum seteguk air putihmu. Mata kita bertemu. Akhirnya.
“ Mas tahu aku bukan benda mati yang bisa terikat. Apalagi dengan aturan-aturan yang gak jelas dan hanya buat puyeng. Berjalan ditempat itu menjenuhkan. Biarkan aku berlari, melayang, menari, bergulung, dimanapun dan kapanpun.”
Kau memerhatikanku.
“ Bisakah aku melepas tali-tali itu sekarang. Aku pikir belum terlambat kan? Biarkan aku meraih apa yang aku ingin. Bukan apa yang diinginkan orang lain.” Nada bicaraku melemah.
Kau mengangguk. Aku tergelak. Berdiri.
“ Makasih mas. Aku pergi sekarang.”
“ Kau siap mendapat ocehan orang-orang itu?” kau menghentikan langkahku.
Aku berbalik. Menatap lekat matamu. “ Pasti.”
 Kuterobos hujan yang menggila. Cappuchinoku telah habis.

Surabaya,
bersama secangkir Cappuchino hangat.

Sabtu, 17 November 2012

Jurnalis, Asik!

Jurnalis itu pelaku yang melakukan kegiatan jurnalistik. Jurnalistik itu adalah kegiatan mencari, menulis dan melaporkan berita atau opini. Intinya menghasilkan berita.( sepahaman saya )^^v
kenapa saya bilang Jurnalis itu asik? ya karena saya suka. Sedari kecil saya memang dibiasakan untuk belajar menulis. Awalnya hanya menulis cerita mini, cerita pendek dan puisi. Setelah beranjak SMP, saya tahu bahwa ibu saya adalah seorang wartawan. Apa wartawan itu? sama saja dengan jurnalis. ( itu jawaban saya )^^v
Waktu itu saya bertanya-tanya. Apa sih wartawan itu? kerjanya ngapain? setelah pertanyaan itu terjawab, ada sebuah ketertarikan dalam diri untuk mencoba menjadi wartawan atau jurnalis.        Akhirnya keinginan itu mulai mendapat langkah awal. Ya, saat ini saya menjadi salah satu bagian dalam sebuah unit kegiatan pers kampus. Kalau dulu tertarik dengan dunia jurnalistik, sekarang saya semakin suka. Apalagi setelah mendapatkan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan dunia itu sendiri, saya serasa makin jatuh tenggelam kedalamnya. Entah ini sifatnya turunan atau asli, yang pasti saya suka dengan dunianya!

Minggu, 07 Oktober 2012

Happy Birthday Mam!

waktu terus berjalan, tanpa bisa kita hentikan. Begitupun usia, turut mengikutinya.

Selamat Ulang Tahun Ibuku tercinta!

Bertahun-tahun kita bersama ya bu. 

Terima kasih mamak. Atas segala yang telah kau korbankan untukku. Tiap detik waktu yang kuhabiskan bersamamu, tak akan pernah aku lupakan.

Maaf. Jika sampai kini aku masih menjadi putrimu yang nakal ^^.

yah, aku tahu, sebesar apapun aku berusaha membalas semua yang telah kau perjuangkan untukku, tak akan pernah cukup. Takkan. Tapi, aku akan mencobanya, sepanjang masa aktifku di dunia.

Aku mencintaimu, kau tahu itu. Seberapa kadarnya, aku tak dapat menghitungnya.

ibu, kau jiwa, nafas dan hidupku.
 

Tahu Ludruk?

Ludruk. Hayou..siapa diantara kalian,khususnya orang Jawa Timur, yang gak kenal sama kesenian satu ini?masih ada yang gak tahu?waaah...ckckck. Ok.Tenang pemirsa, Ludruk merupakan salah satu kesenian tradisional Jawa Timur dalam bentuk drama. Ceritanya seputar kehidupan sehari-hari. Sifatnya menghibur dan biasanya menggunakan bahasa Suroboyoan. Nah, karena kesenian ini label tradisional, biasanya anak-anak muda jaman sekarang jarang sekali yang tertarik dengan kesenian seperti ini. Maka dari itu, untuk menumbuhkan kembali rasa cinta pada kesenian tradisional, khususnya Ludruk, Dinas Pendidikan Jawa Timur menggelar acara lomba Ludruk untuk pelajar yang berlangsung di Grand City mall Surabaya (06/10/2012). Acaranya menarik lho. Beberapa kabupaten ( Surabaya, Gresik, Lumajang, Bojonegoro dan sekitarnya) turut berpartisipasi dalam lomba ini. Melalui acara ini, kita bisa tahu ternyata masih banyak remaja Jawa Timur yang menggemari kesenian Ludruk. Nah, kawan-kawan, sebagai generasi muda penerus bangsa, sudah seharusnya kita mencintai dan melestarikan kekayaan budaya dan seni yang kita miliki. Coba bayangkan kalau kesenian tradisional mati secara perlahan. Waduh, pastinya gak mau kan? kenapa? karena kesenian tradisional merupakan salah satu jati diri kita. Betul kan? Kita boleh terbuka dengan kesenian modern yang ada pada masa kini, tapi ingat, jangan lupakan kesenian tradisional ya? kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?

Salam Budaya!